Rabu, 26 November 2025

Opini tentang Makan Bergizi Gratis (MBG)

Makan Bergizi Gratis atau Jalan yang Layak? Dilema Prioritas Pembangunan di Kabupaten Katingan

Kondisi Jalan Arah Kecamatan Katingan Hulu
Sumber : https://kaltengtoday.com/tiket-travel-setara-pesawat-pemuda-protes-akses-jalan-katingan-hulu-yang-terabaikan/

Oleh: Ahmad Ramlan

Di atas kertas, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan paling ambisius yang pernah diluncurkan pemerintah Indonesia. Program yang menjadi unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, menekan angka stunting, serta mempersiapkan lahirnya Generasi Emas Indonesia 2045. Sulit menemukan alasan untuk menolak tujuan mulia tersebut. Siapa yang tidak menginginkan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki daya saing di masa depan?

Namun, dalam praktik pembangunan, persoalan tidak selalu sesederhana memilih antara benar dan salah. Sering kali pemerintah dihadapkan pada pertanyaan yang lebih rumit: program apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat di suatu daerah pada saat tertentu? Pertanyaan inilah yang menurut saya perlu dijawab ketika berbicara mengenai implementasi Program MBG di Kabupaten Katingan, khususnya wilayah Katingan Hulu hingga Kecamatan Bukit Raya.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per 20 Oktober 2025, Program MBG telah menjangkau sekitar 36,7 juta penerima manfaat dengan realisasi anggaran lebih dari Rp21 triliun. Target akhirnya adalah sekitar 82 juta penerima, yang terdiri atas peserta didik, balita, dan ibu hamil di seluruh Indonesia. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya komitmen pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Secara akademis, kebijakan ini memiliki dasar yang kuat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kecukupan gizi pada masa anak-anak sangat menentukan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas ketika dewasa. UNICEF juga menyebut investasi di bidang gizi sebagai salah satu bentuk investasi publik yang memberikan manfaat ekonomi paling besar karena mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Bahkan, ekonom peraih Nobel James Heckman menegaskan bahwa investasi pada masa awal kehidupan menghasilkan tingkat pengembalian sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan intervensi yang dilakukan ketika seseorang telah dewasa.

Artinya, tidak ada yang salah dengan tujuan Program MBG. Justru sebaliknya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang patut diapresiasi.

Namun, pembangunan nasional tidak berlangsung dalam ruang yang seragam. Indonesia adalah negara kepulauan dengan karakteristik wilayah yang sangat beragam. Kebutuhan masyarakat Jakarta tentu berbeda dengan kebutuhan masyarakat Pegunungan Papua. Begitu pula kebutuhan masyarakat perkotaan tidak selalu sama dengan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

Dalam ilmu kebijakan publik, dikenal prinsip evidence-based policy, yaitu kebijakan harus mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat. OECD menjelaskan bahwa kebijakan yang baik bukan hanya memiliki tujuan yang benar, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan spesifik daerah tempat kebijakan tersebut diterapkan. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan juga oleh ketepatan sasaran.

Di sinilah letak persoalan yang saya lihat di Kabupaten Katingan.

Sebagai masyarakat yang tinggal dan merasakan langsung kondisi daerah, saya melihat bahwa persoalan paling mendesak bukanlah ketersediaan sumber makanan bergizi, melainkan keterbatasan infrastruktur jalan. Terutama pada ruas jalan menuju wilayah Katingan Hulu hingga Kecamatan Bukit Raya, kondisi jalan masih sangat memprihatinkan.

Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi hamparan lumpur yang sulit dilalui kendaraan. Tidak sedikit kendaraan roda dua maupun roda empat yang terjebak berjam-jam bahkan harus ditarik menggunakan alat berat. Perjalanan yang seharusnya berlangsung beberapa jam dapat berubah menjadi perjalanan seharian penuh.

Kondisi tersebut bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut. Belakangan ini, konten kreator Yongki Yong mengunggah dokumentasi perjalanan melintasi ruas jalan tersebut melalui media sosial. Dalam video yang beredar luas, jalan tampak lebih menyerupai kubangan kerbau daripada jalan penghubung antarkecamatan. Para pengemudi harus mempertaruhkan keselamatan, kendaraan mengalami kerusakan, sementara penumpang harus bersabar menghadapi perjalanan yang penuh risiko.

Pemandangan seperti itu tentu menimbulkan pertanyaan sederhana. Ketika masyarakat masih kesulitan mengakses jalan yang layak, apakah pembangunan yang paling dibutuhkan saat ini adalah penyediaan makan siang gratis, atau justru pembangunan jalan agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih baik?

Saya berpandangan bahwa untuk wilayah Kabupaten Katingan, khususnya Katingan Hulu hingga Bukit Raya, pembangunan infrastruktur masih menjadi prioritas yang lebih mendesak.

Pandangan tersebut bukan berarti menolak Program MBG. Saya mendukung tujuan program tersebut. Akan tetapi, saya melihat bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan daerah lain.

Kabupaten Katingan dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sungai-sungainya menghasilkan berbagai jenis ikan air tawar, sementara lahan pertanian, perkebunan, dan hutan menyediakan beragam sumber pangan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar keluarga masih mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil usaha mereka sendiri.

Selain itu, berdasarkan pengamatan di lapangan, tingkat pengangguran di wilayah Katingan Hulu relatif rendah. Hampir seluruh masyarakat usia produktif memiliki pekerjaan, baik sebagai petani, pekebun, nelayan, pedagang, tenaga pendidik, aparatur pemerintah, maupun pekerja sektor informal lainnya. Dengan adanya sumber penghasilan, masyarakat pada umumnya masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya secara mandiri.

Berbeda halnya dengan pembangunan jalan.

Masyarakat tidak mungkin membangun jalan kabupaten dengan biaya sendiri. Mereka tidak memiliki kewenangan, sumber daya, maupun anggaran untuk membangun infrastruktur publik. Di sinilah negara memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun.

Ekonom Richard Musgrave menjelaskan bahwa infrastruktur merupakan barang publik (public goods) yang penyediaannya menjadi tanggung jawab pemerintah. Jalan yang baik bukan hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan produktivitas ekonomi, memperluas akses pendidikan, mempercepat pelayanan kesehatan, serta menurunkan biaya logistik.

Pandangan serupa juga disampaikan Bank Dunia yang berulang kali menegaskan bahwa kualitas infrastruktur merupakan salah satu penentu utama pertumbuhan ekonomi daerah. Tanpa infrastruktur yang memadai, potensi ekonomi sebesar apa pun sulit berkembang secara optimal.

Jika jalan menuju Katingan Hulu dalam kondisi baik, biaya angkut hasil pertanian akan menurun, harga kebutuhan pokok menjadi lebih stabil, anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan aman, pasien dapat lebih cepat memperoleh layanan kesehatan, dan investor memiliki minat lebih besar untuk masuk ke daerah tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga dalam jangka panjang.

Karena itu, saya memandang bahwa pembangunan jalan memiliki manfaat yang jauh lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Katingan dibandingkan pelaksanaan Program MBG pada kondisi saat ini.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin dianggap kontroversial: apakah pelaksanaan Program MBG di Kabupaten Katingan, khususnya wilayah Katingan Hulu, dapat ditunda sementara dan anggarannya dialihkan untuk pembangunan infrastruktur?

Saya menyadari bahwa pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab. Sistem penganggaran negara memiliki aturan yang ketat. Setiap program telah memiliki dasar hukum, pagu anggaran, serta mekanisme pelaksanaan yang berbeda. Pengalihan anggaran tentu memerlukan perubahan kebijakan dan regulasi.

Namun demikian, aspirasi masyarakat tetap layak disampaikan. Demokrasi memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan mengenai prioritas pembangunan di daerahnya. Sebab, masyarakatlah yang setiap hari merasakan langsung dampak dari kebijakan pemerintah.

Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa birokrasi Indonesia masih terlalu kaku. Sesuatu yang secara substansi bermanfaat terkadang sulit diwujudkan karena terbentur prosedur administrasi. Sebaliknya, selama memenuhi ketentuan formal, suatu kebijakan dianggap telah berjalan sesuai aturan, meskipun manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Harapan masyarakat Katingan sebenarnya tidak muluk-muluk. Mereka hanya menginginkan jalan yang layak agar aktivitas sehari-hari dapat berlangsung dengan aman dan bermartabat.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar hadir hingga ke pelosok negeri. Kemerdekaan tidak hanya berarti berkibarnya bendera Merah Putih di seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga hadirnya keadilan pembangunan yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.

Saya percaya pemerintah memiliki niat baik melalui Program Makan Bergizi Gratis. Saya juga percaya bahwa peningkatan kualitas gizi anak merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa. Akan tetapi, saya juga percaya bahwa kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mampu membaca kebutuhan masyarakat secara lebih spesifik.

Bagi masyarakat Kabupaten Katingan, khususnya wilayah Katingan Hulu hingga Bukit Raya, pembangunan jalan bukan sekadar proyek fisik. Jalan adalah akses menuju sekolah, rumah sakit, pasar, kantor pemerintahan, dan pusat-pusat ekonomi. Jalan adalah penghubung kehidupan.

Karena itu, apabila harus memilih prioritas pembangunan hari ini, saya berpendapat bahwa membangun jalan merupakan langkah yang lebih mendesak dibandingkan melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah tersebut. Setelah akses dasar terpenuhi, pelaksanaan program-program sosial lainnya tentu akan jauh lebih efektif dan memberikan manfaat yang lebih besar.

Pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang sama di setiap daerah, melainkan pembangunan yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan negara bukan hanya seberapa besar anggaran yang dibelanjakan, tetapi juga seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat.

Sebab, bagi masyarakat yang setiap hari harus berjuang melewati jalan berlumpur demi mengantar anak ke sekolah atau membawa hasil panen ke pasar, kemerdekaan dan kesejahteraan bukan sekadar slogan. Ia adalah harapan yang menunggu untuk diwujudkan.


Minggu, 11 Desember 2022

Best Practice Model STAR


 

BEST PRACTICE

 

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MATERI MEMAKNAI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGGUNAN MODEL PBL DAN METODE BERVARIASI KELAS VIII SMPN SATU ATAP 3 KATINGAN HULU

 

 

 

 





 

 

 

 

 

 

 

 

 


DISUSUN OLEH :

 

NAMA           : AHMAD RAMLAN

NO.UKG       : 201900847976

PRODI         : PPKn

LPTK           : UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PPG DALAM JABATAN KATEGORI 2

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

TAHUN 2022



LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMPN Satu Atap 3 Katingan Hulu

Lingkup Pendidikan

SMP

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran PPKn

Penulis

Ahmad Ramlan, S.Pd

Tanggal

 

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Latar Belakang Masalah

Berdasarkan pengamatan dari praktek pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya tentang motivasi belajar siswa. Dari hasil pengamatan itu,dengan menggunakan beberapa indikator diantaranya yaitu perhatian siswa dalam pembelajaran, semangat siswa dalam pembelajaran dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Merujuk kepada indikator tersebut terdapat sebagian besar siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Terbukti disaat pembelajaran berlangsung siswa kurang menunjukan perhatian, semangat dan partisipasi dalam pembelajaran.

Berangkat dari permasalahan diatas maka, langkah yang perlu diambil yaitu dengan mengubah cara mengajar. Cara mengajar tersebut meliputi model, metode dan media yang digunakan. Dalam hal ini, penulis menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, Metode pembelajaran bervaraisi dan menggunakan media Power point dan video.

 

Pentingnya praktik ini dibagikan :

Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh siswa. Jika siswa tidak termotivasi dalam pembelajaran maka akan berpengaruh kepada hasil belajar. Oleh sebab itu maka praktik ini sangat penting untuk dibagikan sebagai referensi bagi guru lain dalam menghadapi masalah yang sama.

 

Peran dan tangggung jawab :

Dalam praktik pembelajaran ini seorang guru harus berperan sebagai pendidik profesional dengan tanggung jawab yaitu merencang perangkat pembelajaran yang ideal, melaksankan pembelajaran yang inovatif dengan menerapkan model, metode dan media yang tepat, melakukan penilaian, melakukan tindak lanjut hasil penilaian dengan memanfaatkan teknologi serta melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan untuk perbaikan.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Yang menjadi tantangan dalam melaksankan praktik pembelajaran ini yaitu :

1.  Siswa belum terbiasa dengan praktik pembelajaran inovatif

Ketika menerapkan praktik pembelajaran ini beberapa siswa terlihat masih belum mampu menyesuaikan diri dengan perencanaan pembelajaran. Terbukti dengan disaat melakukan diskusi kelompok ada beberapa siswa yang terlihat kurang aktif.

 

2.  Terbatasnya pengalaman guru

Pengalaman guru yang masih terbatas dalam menerapkan praktik pembelajaran inovatif menjadi salah satu tantangan. Praktik pembelajaran inovatif hal yang baru bagi guru sehinga guru perlu melakukan penyesuai dengan model, media dan teknologi pembelajaran yang akan digunakan.

 

3.  Kondisi Kelas

Jumlah siswa yang banyak tidak diimbangi dengan luas ruang kelas yang memadai. Guru kesulitan dalam mengelola kelompok belajar. Pengaturan meja dan kursi ketika siswa kerja kelompok kurang tertata rapi.

 

4.  Pemilihan Media yang Sesuai dengan Materi

Media pembelajaran yang baik adalah media yang mampu menjadikan siswa lebih tertarik terhadap media tersebut. Untuk mencapai hal diatas perlu kreatifitas dari guru untuk merancang dan memilih media yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disajikan. Dalam hal pemilhan media yang menjadi tantangan adalah kurangnya referensi dan ketersediaan media yang terbatas.

5.  Terbatasnya buku penunjang

Ketersedian buku menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Buku yang terbatas akan menjadi tantangan dalam malaksanakan pembelajaran. Dalam hal ini guru harus menyediakan bahan-bahan yang diperlukan terkait materi yang diajarkan.

 

Yang terlibat dalam praktik pembelajaran ini yaitu :

1.  Kepala Sekolah

Sebelum melaksanakan praktik pembelajaran guru berkordinasi dengan kepala sekolah dalam rangka mempersiapkan alat pendukung pembelajaran. Seperti mepersiapkan LCD, listrik, dan ruang kelas.

2.  Rekan Sejawat

Dalam hal ini rekan sejawat cukup berperan penting dalam mensukseskan kegiatan. Selama proses pembelajaran berlangsung rekan sejawat menajadi observer yang mengamati seluruh aspek kegiatan yang dilakukan guru. Ketika menghadapi permasalahan dikelas, guru secara aktif berkonsultasi dengan rekan sejawat serta berbagi pengalaman.

3.  Siswa

Tidak bisa dipungkiri bahwa tanpa siswa maka kegiatan praktik pembelajaran tidak bisa dilakukan. Disini siswa berperan sangat penting dalam kegaitan. Hampir seluruh aspek kegiatan melibatkan siswa sebagai subjek.

 

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Langkah yang dilakukan dalam menghadapi tantangan yaitu :

1.  Merancang Perangkat Pembelajaran Inovatif

Dalam hal ini guru sebelum melaksanakan pembelajaran harus menysun perencanaan yang termuat dalam RPP. Dalam RPP pembelajaran inovatif siswa akan dibiasakan dengan kegiatan yang mengarah kepada berfikir kristis dan kreatif. Sehingga siswa merasa tertantang mengikuti pembelajaran. Pembelajaran inovatif sebisa mungkin menuntun siswa mengembangkan potensinya, karena aktivitas yang dirancang berorientasi kepada siswa.

2.  Melaksanakan Pembelajaran Inovatif

Untuk meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran inovatif, guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perangkat yang telah dirancang.

3.  Mengoptimalkan Pengelolaan  Kelas

Dalam mengelola kelas strategi yang dilakukan guru yaitu mempersiapkan peserta didik baik fisik maupun psikis agar siap mengikuti proses pembelajaran. Guru dapat melakukan pendekatan personal maupun kelompok dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik.

4.  Merancang Media Pembelajaran yang Interaktif

Penggunaan media pembelajaran sangat penting dalam mensukseskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Kehadiran media pembelajaran akan menjadi daya tarik bagi siswa untuk lebih fokus terhadap materi yang akan disampaikan. Memperhatikan manfaat dari media pembelajaran tersebut maka guru menggunakan media slide PPT, video dan gambar dengan harapan agar siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran PPKn.

5.  Memanfaatkan Teknologi dalam Pembelajaran

Dalam praktik pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan teknologi Laptop dan LCD sebagai alat untuk memproyeksikan media yang telah dibuat. Kehadiran Laptop dan LCD dalam pembelajaran menjadi hal yang menarik, sebab siswa akan menjadi lebih senang mengikuti pembelajaran.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

Dampak dari aksi yang dilakukan yaitu :

1.  Siswa menjadi lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran

Dari hasil evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan indikator motivasi siswa menunjukan bahwa adanya peningkatan motivasi belajar sebelum dan sesudah melaksanakan aksi. Dari 22 siswa yang mengisi instrumen evaluasi rata-rata siswa mengatakan termotivasi mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning.

2.  Bertambahnya penguasaan guru dalam pembelajaran inovatif

Sebelumnya guru menggunakan model pembelajaran yang berpusat kepada guru. Setelah melaksanakan aksi dengan menggunakan model PBL, guru merasa model yang digunakan cukup efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Terlihat dari adanya peningkatan aktivitas belajar siswa. Dalam penerapan pembelajaran menggunakan model PBL siswa akan lebih aktif untuk memecahkan masalah, mencari informasi serta memberikan solusi.

3.  Meningkatnya kemampuan guru dalam mengoperasikan teknologi.

4.  Meningkatnya Kemampuan Berfikir Kritis Siswa.

5.  Meningkatnya kejasama antara kepala sekolah, guru dan siswa.

Sebelum melakukan aksi, terlebih dahulu guru melakukan koordinasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat dan siswa agar dalam pelaksanaan aksi berjalan dengan lancar.

 

Respon pihak lain terhadap strategi yang dilakukan :

1.  Kepala sekolah dan rekan sejawat merespon baik terhadap praktik pembelajaran yang sudah dilakukan. Selama kegiatan baik kepala sekolah maupun rekan sejawat mendukung penuh dan siap membantu untuk kelancaran pelaksanaan pembelajaran dikelas.

2.  Siswa menyambut baik terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan guru. Dari hasil refleksi yang dilakukan rata-rata siswa merasa senang mengkuti proses pembelajaran dengan menggunakan media gambar, video, slide PPT dan model pembelajaran PBL.

 

Yang menjadi Faktor Keberhasilan dalam strategi ini :

1.  Kemampuan dalam merancang perangkat pembelajaran inovatif.

2.  Kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran inovatif.

3.  Kerjasama yang baik antara kepala sekolah, rekan sejawat serta siswa.

4.  Penggunaan media dan model pembelajaran yang tepat.

 

Pembelajaran dari Seluruh Proses yang dilakukan :

1.  Kegiatan pembelajaran tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak direncanakan terlebih dahulu. Oleh sebab itu guru harus membuat perangkat pembelajaran sebagai rencana awal sebelum melaksanakan pembelajaran dikelas.

2.  Guru harus merubah cara mengajar dari yang berpusat pada guru menjadi berpusat kepada siswa. Dalam hal ini guru harus mampu merancang pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas siswa.

3.  Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan tuntutan kompetensi di abad 21 yaitu berfikir kritis, kolaboratif, kreatif dan komunikatif.

 

 

Kecerdasan Buatan di Ruang Guru

Kecerdasan Buatan di Ruang Guru Kecerdasan Buatan di Ruang Guru: Mengubah Kebingungan Menjadi Kemahira...