Sabtu, 17 Januari 2026

Zona Nyaman


“ZONA NYAMAN”

 

Pernahkah anda merasa dimana anda tidak ingin keluar dari sebuah circle. Anda akan merasa circle itu bagian dari hidup, dimana didalamnya hanya ada sedikit tekanan. Ya, itulah yang disebut dengan” Zona Nyaman”. Banyak orang terjebak di zona nyamannya sendiri. Sehingga mereka lupa bahwa masih banyak pengalaman hidup yang bisa di raih di luar zona yang selama ini menjadi tempat kita melangsungkan semua aktivitas sehari-hari. Perasaan takut selalu meanghantui, fikiran-fikiran negatif selalu berdatangan. Takut jika keluar dari zona itu, maka akan mendapatkan beban yang berat. Terjebak di dalam zona nyaman bukan suatu yang baik bagi perkembangan karir dan kompetensi. Biasanya kita hanya bermain di zona aman. Aktivitas keseharian jarang ada muncul inovasi. Bahkan terkesan hanya menjalankan rutinitas yang teratur secara default. Bagi sebagaian orang perubahan itu hanya berlaku bagi generasi muda. Jika dia merasa sudah tidak muda lagi maka dia lebih suka mempertahankan status qua. Slogan yang selalu digaungnya adalah saya sudah tua sudah terlambat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Meskipun tidak semua orang berfikir demikian. Ada juga orang yang sudah tidak muda lagi namun memiliki semangat perubahan yang sangat kuat.

 

Dunia pendidikan tengah mengalami transformasi radikal yang dipicu oleh kemajuan teknologi digital dan perubahan kurikulum yang dinamis (seperti Kurikulum Merdeka di Indonesia). Guru tidak lagi sekadar menjadi sumber ilmu (source of knowledge), melainkan fasilitator pembelajaran. Namun, di balik tuntutan inovasi tersebut, terdapat fenomena stagnansi kompetensi di kalangan tenaga pendidik.

Banyak guru merasa telah berada di titik aman karena memiliki masa kerja yang lama, sertifikasi, atau posisi yang stabil. Kondisi inilah yang disebut sebagai Zona Nyaman (Comfort Zone)—sebuah keadaan psikologis di mana seseorang merasa familiar, terkendali, dan mengalami tingkat kecemasan serta stres yang rendah.

Indeks Kompetensi Guru: Berdasarkan laporan World Bank, meskipun anggaran pendidikan meningkat, kualitas hasil belajar siswa seringkali tidak meningkat secara linear. Salah satu faktor utamanya adalah resistensi guru terhadap metode pembelajaran baru.

Literasi Digital: Survei internal di berbagai daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga pendidik masih kesulitan mengintegrasikan teknologi dalam kelas, bukan karena kurangnya perangkat, melainkan karena keengganan untuk belajar hal baru (sikap "penerimaan terhadap status quo").

l Alasdair White (2009): Dalam teorinya mengenai Performance Management, White menjelaskan bahwa zona nyaman adalah keadaan di mana kinerja seseorang tetap konstan tanpa adanya tantangan. Untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi (zona optimal), seseorang harus berani keluar menuju "Zona Belajar" (Learning Zone).

l Carol Dweck (Fixed vs. Growth Mindset): Pendidik yang terjebak di zona nyaman seringkali memiliki Fixed Mindset. Dweck berpendapat bahwa orang dengan pola pikir ini percaya bahwa kemampuan mereka bersifat statis, sehingga mereka menghindari tantangan karena takut gagal atau terlihat tidak kompeten di depan sejawat atau siswa.

l Judith Bardwick: Penulis Danger in the Comfort Zone menyatakan bahwa di dalam zona nyaman, tidak ada dorongan untuk berprestasi. Bagi guru, hal ini berbahaya karena menyebabkan hilangnya kreativitas yang berdampak langsung pada kejenuhan siswa di kelas.

Ketakutan tenaga pendidik untuk berkembang biasanya berakar pada beberapa hal:

v Fear of Failure (Takut Gagal): Takut dianggap tidak mampu saat mengoperasikan teknologi baru atau metode baru.

v Beban Administrasi: Merasa bahwa belajar hal baru hanya akan menambah beban kerja yang sudah menumpuk.

v Rasa Puas Diri (Complacency): Merasa cara mengajar konvensional selama puluhan tahun masih "cukup baik".

Jika tenaga pendidik tetap memilih diam di zona nyaman, akan terjadi relevansi yang hilang antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri dan kehidupan nyata. Guru yang berhenti belajar adalah guru yang berhenti mengajar. Dampak jangka panjangnya adalah degradasi kualitas sumber daya manusia nasional yang tidak mampu bersaing di kancah global.

 

Rabu, 26 November 2025

Opini tentang Makan Bergizi Gratis (MBG)

Pemerintahan Prabowo-Gibran telah bertekad memberikan anak-anak Indonesia yang masih berada diusia sekolah dan ibu hamil makan bergizi gratis (MBG) . Program ini menyasar 82 juta anak sekolah se Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Dari awal program ini berjalan sampai dengan saat ini sudah menyasar 36,7 juta Anak sekolah dan menghabiskan biaya sekitar lebih dari 21 triliun hingga Oktober 2025 (Sumber : BGN 20 Oktober 2025). Dengan adanya program ini diharapkan anak Indonesia menjadi lebih sehat dan cerdas. Program ini salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas gizi anak. Sebagai persiapan untuk menghadapi generasi emas 2045. 

Program MBG memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat sangat mendukung dengan adanya program tersebut. Namun tidak sedikit juga yang menolak dengan alasan masih banyak infrastruktur berupa jalan terutama dipelosok yang perlu segera ditangani karena merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Sebut saja salah satu contoh infrastruktur yang sangat memprihatinkan yaitu di kabupaten katingan propinsi kalimantan tengah. Jalan menuju katingan bagian utara yaitu kecamatan katingan hulu jauh dari kata layak. Setiap hari masyarakat harus berjuang melewati jalan berlumpur ketika musim hujan tiba. Akhir-akhir ini salah satu postingan dari konten kreator yang bernama yongki yong memperlihatkan kondisi jalan yang lebih mirip seperti kubangan kerbau. Rasa lelah dan resikopun harus ditanggung oleh para driver dan penumpang demi sampainya di sebuah tujuan yaitu ibu kota kecamatan. 

Lalu, perlukah MBG dilaksanakan di kabupaten katingan? 

Saya beropini program MBG memang bagus, tapi untuk saat ini kabupaten katingan lebih membutuhkan infrastruktur yang memadai terutama wilayah katingan hulu sampai kecamatan bukit raya. Kalau kita melihat hasil alam di kabupaten katingan tergolong melimpah yang masih bisa di manfaatkan oleh penduduk sebagai sumber makanan bergizi tanpa bantuan pemerintahpun masyarakat mampu memperolehnya. Tingkat pengangguran di Kabupaten katingan secara khusus daerah katingan hulu tergolong sangat rendah dan hampir semua penduduk yang berusia produktif semuanya memiliki pekerjaan baik di sektor formal maupun nonformal. Jika penduduk telah memiliki pekerjaan maka tidak ada kendala untuk memenuhi gizi anak di rumahnya masing-masing sehingga pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur mengatur urusan dapur masyarakat karena itu menjadi tanggung jawab dari orang tuanya. Lain halnya dengan infrastruktur, masyarakat tidak mampu mengadakan sendiri, maka disini perlu intervensi dari pemerintah selaku pemegang mandat rakyat. Lalu, bisakah MBG itu di tunda pelaksanaanya di Kabupaten Katingan secara khusus di katingan hulu, yang mana anggarannya di alihkan saja untuk membangun infrastruktur. Entahlah hanya mereka yang tau, birokrasi kita terkenal dengan birokrasi yang kaku dan berbelit-belit. Sehingga jika ada pekerjaan yang bertentangan dengan regulasi meskipun itu baik maka dianggap melanggar. Justru sebaliknya jika ada pekerjaan yang sesuai regulasi meskipun manipulatif maka dianggap sah. Sampai kapan masyarakat harus merasakan penderitaan, sudah 80 tahun Indonesia merdeka. Namun kehidupan masyarakar masih jauh dari kata sejahtera. Sudahkah kita benar-benar merasakan kemerdekaan itu. Tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.

Minggu, 11 Desember 2022

Best Practice Model STAR


 

BEST PRACTICE

 

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MATERI MEMAKNAI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGGUNAN MODEL PBL DAN METODE BERVARIASI KELAS VIII SMPN SATU ATAP 3 KATINGAN HULU

 

 

 

 





 

 

 

 

 

 

 

 

 


DISUSUN OLEH :

 

NAMA           : AHMAD RAMLAN

NO.UKG       : 201900847976

PRODI         : PPKn

LPTK           : UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PPG DALAM JABATAN KATEGORI 2

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

TAHUN 2022



LK 3.1 Menyusun Best Practices

 

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMPN Satu Atap 3 Katingan Hulu

Lingkup Pendidikan

SMP

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran PPKn

Penulis

Ahmad Ramlan, S.Pd

Tanggal

 

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Latar Belakang Masalah

Berdasarkan pengamatan dari praktek pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya tentang motivasi belajar siswa. Dari hasil pengamatan itu,dengan menggunakan beberapa indikator diantaranya yaitu perhatian siswa dalam pembelajaran, semangat siswa dalam pembelajaran dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Merujuk kepada indikator tersebut terdapat sebagian besar siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah. Terbukti disaat pembelajaran berlangsung siswa kurang menunjukan perhatian, semangat dan partisipasi dalam pembelajaran.

Berangkat dari permasalahan diatas maka, langkah yang perlu diambil yaitu dengan mengubah cara mengajar. Cara mengajar tersebut meliputi model, metode dan media yang digunakan. Dalam hal ini, penulis menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, Metode pembelajaran bervaraisi dan menggunakan media Power point dan video.

 

Pentingnya praktik ini dibagikan :

Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh siswa. Jika siswa tidak termotivasi dalam pembelajaran maka akan berpengaruh kepada hasil belajar. Oleh sebab itu maka praktik ini sangat penting untuk dibagikan sebagai referensi bagi guru lain dalam menghadapi masalah yang sama.

 

Peran dan tangggung jawab :

Dalam praktik pembelajaran ini seorang guru harus berperan sebagai pendidik profesional dengan tanggung jawab yaitu merencang perangkat pembelajaran yang ideal, melaksankan pembelajaran yang inovatif dengan menerapkan model, metode dan media yang tepat, melakukan penilaian, melakukan tindak lanjut hasil penilaian dengan memanfaatkan teknologi serta melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan untuk perbaikan.

 

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Yang menjadi tantangan dalam melaksankan praktik pembelajaran ini yaitu :

1.  Siswa belum terbiasa dengan praktik pembelajaran inovatif

Ketika menerapkan praktik pembelajaran ini beberapa siswa terlihat masih belum mampu menyesuaikan diri dengan perencanaan pembelajaran. Terbukti dengan disaat melakukan diskusi kelompok ada beberapa siswa yang terlihat kurang aktif.

 

2.  Terbatasnya pengalaman guru

Pengalaman guru yang masih terbatas dalam menerapkan praktik pembelajaran inovatif menjadi salah satu tantangan. Praktik pembelajaran inovatif hal yang baru bagi guru sehinga guru perlu melakukan penyesuai dengan model, media dan teknologi pembelajaran yang akan digunakan.

 

3.  Kondisi Kelas

Jumlah siswa yang banyak tidak diimbangi dengan luas ruang kelas yang memadai. Guru kesulitan dalam mengelola kelompok belajar. Pengaturan meja dan kursi ketika siswa kerja kelompok kurang tertata rapi.

 

4.  Pemilihan Media yang Sesuai dengan Materi

Media pembelajaran yang baik adalah media yang mampu menjadikan siswa lebih tertarik terhadap media tersebut. Untuk mencapai hal diatas perlu kreatifitas dari guru untuk merancang dan memilih media yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran yang akan disajikan. Dalam hal pemilhan media yang menjadi tantangan adalah kurangnya referensi dan ketersediaan media yang terbatas.

5.  Terbatasnya buku penunjang

Ketersedian buku menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Buku yang terbatas akan menjadi tantangan dalam malaksanakan pembelajaran. Dalam hal ini guru harus menyediakan bahan-bahan yang diperlukan terkait materi yang diajarkan.

 

Yang terlibat dalam praktik pembelajaran ini yaitu :

1.  Kepala Sekolah

Sebelum melaksanakan praktik pembelajaran guru berkordinasi dengan kepala sekolah dalam rangka mempersiapkan alat pendukung pembelajaran. Seperti mepersiapkan LCD, listrik, dan ruang kelas.

2.  Rekan Sejawat

Dalam hal ini rekan sejawat cukup berperan penting dalam mensukseskan kegiatan. Selama proses pembelajaran berlangsung rekan sejawat menajadi observer yang mengamati seluruh aspek kegiatan yang dilakukan guru. Ketika menghadapi permasalahan dikelas, guru secara aktif berkonsultasi dengan rekan sejawat serta berbagi pengalaman.

3.  Siswa

Tidak bisa dipungkiri bahwa tanpa siswa maka kegiatan praktik pembelajaran tidak bisa dilakukan. Disini siswa berperan sangat penting dalam kegaitan. Hampir seluruh aspek kegiatan melibatkan siswa sebagai subjek.

 

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Langkah yang dilakukan dalam menghadapi tantangan yaitu :

1.  Merancang Perangkat Pembelajaran Inovatif

Dalam hal ini guru sebelum melaksanakan pembelajaran harus menysun perencanaan yang termuat dalam RPP. Dalam RPP pembelajaran inovatif siswa akan dibiasakan dengan kegiatan yang mengarah kepada berfikir kristis dan kreatif. Sehingga siswa merasa tertantang mengikuti pembelajaran. Pembelajaran inovatif sebisa mungkin menuntun siswa mengembangkan potensinya, karena aktivitas yang dirancang berorientasi kepada siswa.

2.  Melaksanakan Pembelajaran Inovatif

Untuk meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran inovatif, guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perangkat yang telah dirancang.

3.  Mengoptimalkan Pengelolaan  Kelas

Dalam mengelola kelas strategi yang dilakukan guru yaitu mempersiapkan peserta didik baik fisik maupun psikis agar siap mengikuti proses pembelajaran. Guru dapat melakukan pendekatan personal maupun kelompok dalam menciptakan hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik.

4.  Merancang Media Pembelajaran yang Interaktif

Penggunaan media pembelajaran sangat penting dalam mensukseskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Kehadiran media pembelajaran akan menjadi daya tarik bagi siswa untuk lebih fokus terhadap materi yang akan disampaikan. Memperhatikan manfaat dari media pembelajaran tersebut maka guru menggunakan media slide PPT, video dan gambar dengan harapan agar siswa lebih tertarik mengikuti pembelajaran PPKn.

5.  Memanfaatkan Teknologi dalam Pembelajaran

Dalam praktik pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan teknologi Laptop dan LCD sebagai alat untuk memproyeksikan media yang telah dibuat. Kehadiran Laptop dan LCD dalam pembelajaran menjadi hal yang menarik, sebab siswa akan menjadi lebih senang mengikuti pembelajaran.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

Dampak dari aksi yang dilakukan yaitu :

1.  Siswa menjadi lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran

Dari hasil evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan indikator motivasi siswa menunjukan bahwa adanya peningkatan motivasi belajar sebelum dan sesudah melaksanakan aksi. Dari 22 siswa yang mengisi instrumen evaluasi rata-rata siswa mengatakan termotivasi mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning.

2.  Bertambahnya penguasaan guru dalam pembelajaran inovatif

Sebelumnya guru menggunakan model pembelajaran yang berpusat kepada guru. Setelah melaksanakan aksi dengan menggunakan model PBL, guru merasa model yang digunakan cukup efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Terlihat dari adanya peningkatan aktivitas belajar siswa. Dalam penerapan pembelajaran menggunakan model PBL siswa akan lebih aktif untuk memecahkan masalah, mencari informasi serta memberikan solusi.

3.  Meningkatnya kemampuan guru dalam mengoperasikan teknologi.

4.  Meningkatnya Kemampuan Berfikir Kritis Siswa.

5.  Meningkatnya kejasama antara kepala sekolah, guru dan siswa.

Sebelum melakukan aksi, terlebih dahulu guru melakukan koordinasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat dan siswa agar dalam pelaksanaan aksi berjalan dengan lancar.

 

Respon pihak lain terhadap strategi yang dilakukan :

1.  Kepala sekolah dan rekan sejawat merespon baik terhadap praktik pembelajaran yang sudah dilakukan. Selama kegiatan baik kepala sekolah maupun rekan sejawat mendukung penuh dan siap membantu untuk kelancaran pelaksanaan pembelajaran dikelas.

2.  Siswa menyambut baik terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan guru. Dari hasil refleksi yang dilakukan rata-rata siswa merasa senang mengkuti proses pembelajaran dengan menggunakan media gambar, video, slide PPT dan model pembelajaran PBL.

 

Yang menjadi Faktor Keberhasilan dalam strategi ini :

1.  Kemampuan dalam merancang perangkat pembelajaran inovatif.

2.  Kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran inovatif.

3.  Kerjasama yang baik antara kepala sekolah, rekan sejawat serta siswa.

4.  Penggunaan media dan model pembelajaran yang tepat.

 

Pembelajaran dari Seluruh Proses yang dilakukan :

1.  Kegiatan pembelajaran tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak direncanakan terlebih dahulu. Oleh sebab itu guru harus membuat perangkat pembelajaran sebagai rencana awal sebelum melaksanakan pembelajaran dikelas.

2.  Guru harus merubah cara mengajar dari yang berpusat pada guru menjadi berpusat kepada siswa. Dalam hal ini guru harus mampu merancang pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas siswa.

3.  Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan tuntutan kompetensi di abad 21 yaitu berfikir kritis, kolaboratif, kreatif dan komunikatif.