“ZONA NYAMAN”
Pernahkah anda merasa dimana anda tidak ingin keluar dari sebuah circle. Anda akan merasa circle itu bagian dari hidup, dimana didalamnya hanya ada sedikit tekanan. Ya, itulah yang disebut dengan” Zona Nyaman”. Banyak orang terjebak di zona nyamannya sendiri. Sehingga mereka lupa bahwa masih banyak pengalaman hidup yang bisa di raih di luar zona yang selama ini menjadi tempat kita melangsungkan semua aktivitas sehari-hari. Perasaan takut selalu meanghantui, fikiran-fikiran negatif selalu berdatangan. Takut jika keluar dari zona itu, maka akan mendapatkan beban yang berat. Terjebak di dalam zona nyaman bukan suatu yang baik bagi perkembangan karir dan kompetensi. Biasanya kita hanya bermain di zona aman. Aktivitas keseharian jarang ada muncul inovasi. Bahkan terkesan hanya menjalankan rutinitas yang teratur secara default. Bagi sebagaian orang perubahan itu hanya berlaku bagi generasi muda. Jika dia merasa sudah tidak muda lagi maka dia lebih suka mempertahankan status qua. Slogan yang selalu digaungnya adalah saya sudah tua sudah terlambat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Meskipun tidak semua orang berfikir demikian. Ada juga orang yang sudah tidak muda lagi namun memiliki semangat perubahan yang sangat kuat.
Dunia pendidikan tengah mengalami transformasi radikal yang dipicu oleh kemajuan teknologi digital dan perubahan kurikulum yang dinamis (seperti Kurikulum Merdeka di Indonesia). Guru tidak lagi sekadar menjadi sumber ilmu (source of knowledge), melainkan fasilitator pembelajaran. Namun, di balik tuntutan inovasi tersebut, terdapat fenomena stagnansi kompetensi di kalangan tenaga pendidik.
Banyak guru merasa telah berada di titik aman karena memiliki masa kerja yang lama, sertifikasi, atau posisi yang stabil. Kondisi inilah yang disebut sebagai Zona Nyaman (Comfort Zone)—sebuah keadaan psikologis di mana seseorang merasa familiar, terkendali, dan mengalami tingkat kecemasan serta stres yang rendah.
Indeks Kompetensi Guru: Berdasarkan laporan World Bank, meskipun anggaran pendidikan meningkat, kualitas hasil belajar siswa seringkali tidak meningkat secara linear. Salah satu faktor utamanya adalah resistensi guru terhadap metode pembelajaran baru.
Literasi Digital: Survei internal di berbagai daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga pendidik masih kesulitan mengintegrasikan teknologi dalam kelas, bukan karena kurangnya perangkat, melainkan karena keengganan untuk belajar hal baru (sikap "penerimaan terhadap status quo").
l Alasdair White (2009): Dalam teorinya mengenai Performance Management, White menjelaskan bahwa zona nyaman adalah keadaan di mana kinerja seseorang tetap konstan tanpa adanya tantangan. Untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi (zona optimal), seseorang harus berani keluar menuju "Zona Belajar" (Learning Zone).
l Carol Dweck (Fixed vs. Growth Mindset): Pendidik yang terjebak di zona nyaman seringkali memiliki Fixed Mindset. Dweck berpendapat bahwa orang dengan pola pikir ini percaya bahwa kemampuan mereka bersifat statis, sehingga mereka menghindari tantangan karena takut gagal atau terlihat tidak kompeten di depan sejawat atau siswa.
l Judith Bardwick: Penulis Danger in the Comfort Zone menyatakan bahwa di dalam zona nyaman, tidak ada dorongan untuk berprestasi. Bagi guru, hal ini berbahaya karena menyebabkan hilangnya kreativitas yang berdampak langsung pada kejenuhan siswa di kelas.
Ketakutan tenaga pendidik untuk berkembang biasanya berakar pada beberapa hal:
v Fear of Failure (Takut Gagal): Takut dianggap tidak mampu saat mengoperasikan teknologi baru atau metode baru.
v Beban Administrasi: Merasa bahwa belajar hal baru hanya akan menambah beban kerja yang sudah menumpuk.
v Rasa Puas Diri (Complacency): Merasa cara mengajar konvensional selama puluhan tahun masih "cukup baik".
Jika tenaga pendidik tetap memilih diam di zona nyaman, akan terjadi relevansi yang hilang antara apa yang diajarkan di sekolah dengan kebutuhan industri dan kehidupan nyata. Guru yang berhenti belajar adalah guru yang berhenti mengajar. Dampak jangka panjangnya adalah degradasi kualitas sumber daya manusia nasional yang tidak mampu bersaing di kancah global.
